Kamis, 15 Maret 2012

Pendidikan Formal Sekolah

Pendidikan Formal Sekolah
Komponen sekolah

Komponen sekolah terdiri atas:
1)      Tujuan pendidikan
2)      Manusia yaitu guru, peserta didik, kepala sekolah, laboran, pustakawan, tenaga administrasi, petugas kebersihan, dan seterusnya.
3)      Kurikulum
4)      Media pendidikan dan teknologi pendidikan.
5)      Sarana, prasarana dan fasilitas serta,
6)      Pengelola sekolah
Sekolah sebagai Pranata atau Lembaga Pendidikan Formal
Redja Mudyahardjo (Odang Muchtar, 1991) mengemukakan karakteristik lembaga pendidikan formal sekolah sebagai berikut:
1)      Sekolah mempunyai fungsi atau tugas khusus dalam bidang pendidikan.
2)      Sekolah mempunyai tatanan nilai dan norma yang dinyatakan secara tersurat tentang peranan peranan dan hubungan hubungan sosial didalam sekolah, dan antara sekolah dengan lembaga lainnya.
3)      Sekolah mempunyai program yang terorganisasi dengan ketat.
4)      Kredensials dipandang penting baik dalam penerimaan siswa baru maupun untuk menunjukkan bukti kelulusan.
Fungsi Pendidikan Sekolah
Dari sekian versi tentang fungsi pendidikan sekolah dapat dikemukakan sebagai berikut:
1)      Fungsi transmisi kebudayaan masyarakat
2)      Fungsi sosialisasi (memilih dan mengajarkan peranan sosial)
3)      Fungsi Integrasi sosial
4)      Fungsi mengembangkan kepribadian individu atau anak
5)      Fungsi mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan
6)      Fungsi untuk inovasi atau mentransformasi
Perbedaan Sosialisasi di Sekolah dan di dalam keluarga
Menurut George Herbert Mead, manusia yang baru lahir belum mempunyai diri (Self) manusia. Diri manusia berkembang melalui interaksi dengan anggota masyarakatnya. Adapun perkembangan diri manusia berlangsung melalui tahapan: Play Stage, Game Stage, dan Generalized Other. Pada tahap Play Stage anak kecil mulai meniru peranan orangtua atau orang dewasa yang sering berinteraksi dengannya dikala mereka bermain. Tahap Game Stage anak bukan hanya mengetahui peranan yang harus dijalankannya tetapi sudah mengetahui peranan yang harus dilakukan orang lain dengan siapa ia berinteraksi. Tahap Generalized Other anak telah mampu mengambil peranan peranan yang dijalankan orang lain di masyarakat sehingga ia mampu berinteraksi dengan orang lain dan masyarakat.
Menurut Robert Dreeben (1968) perbedaan aturan yang dipelajari anak dikeluarga dan disekolah ada empat yaitu:
1)      Independence (Kemandirian)
2)      Achievement (Prestasi)
3)      Universalism (Universalisme)
4)      Spesifity (Spesifik)

2.       Pendidikan Nonformal
Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan diluar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang (Pasal 1 ayat (12) UU RI No. 20 Tahun 2003)
Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional.
Ruang lingkup pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan serta, pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.
Satuan pendidikan nonformal terdiri atas kursus, pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan sejenis.
E. Pendidikan, Masyarakat dan Kebudayaan
                Terdapat hubungan timbal balik antara pendidikan dengan masyarakat dan kebudayaan. Sebagai pranata sosial, pranata pendidikan berada didalam masyarakat dan kebudayaan. Pranata pendidikan mengambil masukan (input) dari masyarakat dan kebudayaannya, serta memberikan output pada masyarakat. Sebaiknya, masyarakat dan kebudayaannya memberikan atau menyediakan sumber sumber input bagi pranata pendidikan dan menerima output dari pranata pendidikan.  Di dalam masyarakat terdapat pranata-pranata lain atau sub sistem-sub sistem lainnya, seperti pranata ekonomi, pranata politik, dan sebagainya. Terdapat hubungan fungsional antara pranata pendidikan dengan pranata-pranata lainnya, bahkan juga dengan masyarakat sebagai sistem yang melingkupinya. Terdapat hubungan timbal balik antara pranata pendidikan dengan masyarakat dan kebudayaannya.
                Dalam hubungan dengan keadaan serta harapan masyarakat dan kebudayaannya pranata pendidikan memiliki dua fungsi utama, yaitu:
1)      Fungsi konservasi
Pranata Pendidikan berfungsi untuk mewariskan atau melestarikan nilai-nilai budaya masyarakat dan atau mempertahankan kelangsungan eksistensi masyarakat
2)      Fungsi Inovasi atau kreasi atau transformasi
Pranata pendidikan berfungsi untuk melakukan perubahan dan pembaharuan masyarakat beserta nilai nilai kebudayaannya.
F. Pola-Pola Kegiatan Sosial Pendidikan
                J.W. Getzels dan H.A. Thelen, pada dasarnya ada dua dimensi tingkah laku yang saling berinteraksi dan menentukan tingkah laku individu didalam sistem sosialnya, yaitu : (1) Dimensi nomothetis dan (2) Dimensi ideografis (A. Morrison and D. McIntyre, 1972). Dimensi nomothetis meliputi variable pranata (institution), peranan (role), dan harapan-harapan sosial (expectations), sedangkan dimensi ideografis meliputi variable individu (Individual), kepribadian (Personality), dan kebutuhan-kebutuhan perorangan (need-dispositions). Selanjutnya, bahwa dimensi nomothetis saling berhubungan dengan variable-variable kebudayaan, yaitu ethos, mores dan nilai-nilai masyarakat; sedangkan dimensi ideografis saling berhubungan dengan variable-variable biologis, yaitu individu sebagai makhluk hidup (organism), keadaan jasmaninya (constitution), dan kemampuan-kemampuannya (potentialities).
Pola nomothetis lebih mengutamakan fungsi dimensi tingkah laku yang bersifat normatif atau nomothetis daripada fungsi tingkah laku ideografis. Dengan demikian, maka tingkah laku pendidik dan peserta didik akan lebih mengutamakan tuntutan-tuntutan institusi, peranan peranan yang seharusnya,, dan harapan-harapan sosial daripada tuntutan-tuntutan individual, kepribadian dan kebutuhan-kebutuhan individual. Pendidikan berdasarkan pola nomothetis mempunyai pengertian sebagai sosialisasi kepribadian (sosialization of personality).
Kebalikan dari pola nomothetis adalah pola ideografis. Karena itu pendidikan berdasarkan pola kegiatan sosial ideografis mempunyai pengertian sebagai personalisasi peranan (personalization of roles) yaitu upaya membantu seseorang untuk mengetahui dan mengembangkan tentang apa yang ingin diketahui atau ingin dikembangkannya. Hal ini menimbulkan psikologisme atau developmentalisme dalam pendidikan. Kegiatan sosial pendidikan pola transaksional mengutamakan keseimbangan berfungsinya dimensi tingkah laku nomothetis dan dimensi tingkah laku ideografis. Sebab itu pendidikan berdasarkan pola ini dipahami sebagai suatu sistem sosial yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: a) Setiap individu mengenal tujuan-tujuan sistem, dan tujuan itu merupakan bagian dari kebutuhan pribadinya; b) Setiap individu percaya bahwa harapan-harapan sosial yang dikenakan kepada dirinya adalah rasional apabila harapan-harapan tersebut dapat dicapai; c) Setiap individu merasa bahwa ia termasuk suatu kelompok dengan suasana emosional yang sama.
G. Pola Sikap Guru kepada Siswa dan Implikasinya terhadap Fungsi dan Tipe Guru
David Hargreaves (Sudarja Adiwikarta, 1988) mengemukakan tiga kemungkinan pola sikap guru terhadap muridnya serta implikasinya terhadap fungsi dan tipe atau kategori guru.
Pola Pertama: Guru berasumsi bahwa para muridnya belum menguasai kebudayaan, sedangkan pendidikan diartikan sebagai enkulturasi (pembudayaan). Implikasinya maka tugas dan fungsi guru adalah membimbing muridnya untuk mempelajari hal-hal yang dipilihkan oleh guru dengan pertimbangan itulah yang terbaik bagi mereka. Tipe guru ini dinamakan Hargreaves sebagai penjinak atau penggembala singa (“lion tamer”).
Pola Kedua: Guru berasumsi bahwa para muridnya mempunyai dorongan untuk belajar yang harus menghadapi materi pengajaran yang baru baginya, cukup berat dan kurang menarik. Implikasinya maka tugas guru adalah membuat pelajaran menjadi menyenangkan, menarik dan mudah bagi para muridnya. Tipe guru ini dikategorikan sebagai penghibur atau “entertainer”.
Pola ketiga: Guru berasumsi bahwa para muridnya mempunyai dorongan untuk belajar, ditambah dengan harapan bahwa murid harus mampu menggali sendiri sumber belajar, dan harus mampu mengimbangi dan berperan dalam kehidupan masyarakat yang terus menerus berubah, bahkan dengan kecepatan yang semakin meningkat. Implikasinya guru harus memberikan kebebasan yang cukup luas kepada murid. Baik secara individual maupun kelompok kecil guru dan murid bersama sama menyusun program kurikuler. Hubungan guru-murid didasari kepercayaan, dan arah belajar mengajar adalah pengembangan kamampuan dan kemauan belajar dikalangan murid. Tipe guru demikian dikategorikan oleh Hargreaves sebagai “guru romantik” (romantic).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar